​Bismillah, wash-sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah

Sabuk pengaman (seat belt) pada mobil dan kendaraan sejenisnya adalah alat pelindung diri yang sangat bermanfaat. Penggunaan sabuk pengaman dapat menurunkan angka kematian, khususnya akibat trauma kepala secara signifikan. Namun sayang, terkadang pengendara mobil tidak menggunakan sabuk pengaman dengan benar. Akibatnya, efektivitas sabuk pengaman untuk memproteksi pengendara mobil berkurang. Bahkan, dapat terjadi perlukaan yang timbul akibat kesalahan pemakaian sabuk pengaman.

Cara Kerja Sabuk Pengaman

Perhatikan panduan posisi sabuk pengaman yang benar berikut.

© 1985 – 2017 The Safety Restraint Coalition / 800BucklUp.org

1) tali selempang melintang dari tulang selangka bahu (tulang panjang yang membentuk bahu) menuju sternum (tulang tengah dada), menyusuri susunan tulang rusuk, hingga ke samping pinggang.

2) tali lintang bawah melintang dari bawah tonjolan tulang usus (spina iliaca anterior superior) ke bawah tonjolan tulang usus lainnya.

Pada prinsipnya, saat terjadi tabrakan tubuh akan terlempar ke arah depan. Saat itulah sabuk pengaman menahan tubuh dengan cara memberikan gaya ke arah tubuh, mempertahankan tubuh agar tidak terlempar ke depan. Jika posisi sabuk pengaman tepat, gaya yang begitu besar tersebut akan menekan struktur tubuh yang kuat, yaitu tulang selangka bahu, tulang dada, tulang rusuk, dan tulang usus (pinggul).

Apa yang terjadi jika posisi sabuk pengaman tidak tepat? Jika posisi sabuk tidak tepat, gaya yang besar tidak diarahkan ke struktur tubuh yang kuat, yaitu tulang. Gaya justru diarahkan ke bagian tubuh yang lemah, yaitu dinding perut.

Termasuk kesalahan yang sering dilakukan ialah tali lintang bawah terpasang terlalu tinggi. Ingat, posisi yang benar adalah tali lintang bawah melintang di bawah tonjolan tulang usus. Tonjolan ini dapat Anda temukan saat berdiri tegak, lalu memegang sisi terluar pinggang Anda. Itulah tonjolan yang disebut spina iliaca anterior posterior (SIAS).

Jika letak tali terlalu tinggi, gaya dari sabuk pengaman yang menahan tubuh saat terjadi kecelakaan tidak diberikan kepada tulang, namun ke dinding perut. Padahal, dinding perut tidak begitu kuat untuk menahan gaya tersebut. Akibatnya, dapat terjadi kerusakan pada organ-organ di bawah perut.

Untuk lebih memahami hal ini, kita perlu mengetahui batas rongga perut. Batas depan rongga perut ialah dinding perut depan, batas belakang ialah dinding perut belakang yang menyusun pinggang dan punggung. Adapun batas perut bawah adalah struktur tulang pinggul. Batas atas perut ialah diafragma. Diafragma, pembatas antara perut dengan dada, adalah pembatas rongga perut yang paling lemah. Gaya yang dihasilkan oleh tali lintang bawah, yang menekan dinding perut, akan diteruskan ke berbagai arah di rongga perut. Seluruh bagian dalam perut dapat terpengaruh gaya ini; dan bagian yang paling mungkin mengalami kerusakan di antaranya ialah diafragma, karena diafragma adalah pembatas dinding perut yang paling lemah.

Posisi tali selempang bawah berwarna hijau benar, sedangkan tali berwarna orange salah.

Selain membahayakan organ-organ di rongga perut, pemasangan tali lintang bawah terlalu tinggi juga dapat menyebabkan patah tulang belakang, sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di atas.

Oleh karena itu penting untuk memastikan bahwa tali sabuk pengaman terpasang di posisi yang benar. Sehingga jika terjadi kecelakaan, tali-tali sabuk pengaman hanya menekan struktur tubuh yang kuat, yaitu tulang. Dengan demikian, pengendara yang mengalami kecelakaan dapat terhindari dari tambahan luka dari sabuk pengaman.